Berita

Rapimprov II Kadin DKI Jakarta Soroti Tiga Aspek Krusial bagi Dunia Usaha

berita09 Maret 20261
Rapimprov II Kadin DKI Jakarta Soroti Tiga Aspek Krusial bagi Dunia Usaha

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) II di Hotel Park Hyatt Jakarta pada Senin, 9 Maret 2026. Forum tersebut mengusung tema "Pengusaha Lokal sebagai Pilar Strategis Penggerak Ekonomi Provinsi DKI Jakarta" dan menempatkan penguatan pelaku usaha daerah sebagai agenda utama.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie dalam sambutannya menyampaikan bahwa dunia usaha tengah berhadapan dengan tantangan global yang kian berlapis, mulai dari konflik geopolitik hingga tekanan ekonomi internasional. "Kita melihat dunia saat ini penuh tantangan. Tahun lalu kita bicara perang dagang dan tarif dengan Amerika Serikat, sekarang kita melihat perang fisik terjadi di Timur Tengah. Tentu dampak konflik ini sangat besar bagi kita semua," ujarnya.

Tiga aspek yang perlu diwaspadai

Anindya menggarisbawahi tiga hal yang menurutnya menuntut kewaspadaan nasional. Pertama, ketahanan energi. Ia mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak dunia berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. "Kalau harga minyak terus naik bahkan menembus 100 dolar AS per barel, tentu ini menjadi tekanan besar bagi APBN kita. Saat ini, APBN kita di Rp600 triliun kurang lebih, defisitnya yang dianggarkan, tentu angkanya bisa naik sampai 40-50 persen," jelasnya. Meski demikian, ia menilai kondisi pasokan gas dan bahan bakar minyak di DKI Jakarta relatif aman, termasuk untuk menopang aktivitas sektor perikanan.

Aspek kedua adalah ketahanan pangan, khususnya dalam menjaga kestabilan harga menjelang Lebaran. Ia mengapresiasi langkah Kadin DKI Jakarta menggelar pasar murah sebagai upaya menahan laju inflasi. Aspek ketiga menyangkut stabilitas nasional serta stabilitas Jakarta sebagai pusat kegiatan ekonomi. "Kadin DKI Jakarta adalah motor penggerak ekonomi, tetapi juga penjaga stabilitas nasional," ujarnya.

Kontribusi Jakarta terhadap perekonomian nasional disebut tetap besar, yakni 16,8 persen dari Produk Domestik Bruto nasional dengan pertumbuhan ekonomi 5,21 persen atau di atas rata-rata nasional. "Dan ini terlepas bahwa DKI Jakarta sekarang bukan ibu kota negara, tetapi justru terlihat transformasinya menjadi pusat servis industri yang baik," kata Anindya. Ia juga mengapresiasi pembinaan industri kecil menengah dan UMKM yang ditempuh Kadin DKI Jakarta melalui program sertifikasi dan pelatihan vokasi, karena peningkatan produktivitas dan inovasi berkaitan erat dengan pelatihan semacam itu. Empat pilar penguatan ekonomi Jakarta yang ia usulkan meliputi swasembada, pertumbuhan ekonomi, keberpihakan yang inklusif, serta keberlanjutan.

Penguatan pengusaha lokal

Ketua Umum Kadin Provinsi DKI Jakarta Diana Dewi menegaskan bahwa pertumbuhan pengusaha lokal berdampak luas bagi perekonomian daerah. "Ketika pengusaha lokal tumbuh, yang berkembang bukan hanya bisnisnya, tetapi juga lapangan kerja, perputaran ekonomi, dan multiplier effect bagi masyarakat," paparnya. Ia berharap Jakarta mempertimbangkan kebijakan afirmatif yang memberi ruang dan prioritas bagi pengusaha lokal dalam pembangunan daerah, tanpa mengabaikan prinsip persaingan usaha yang sehat.

Gubernur Provinsi DKI Jakarta Pramono Anung mendorong Kadin berperan aktif dalam percepatan pembangunan kota, seraya menyatakan komitmen Pemprov DKI Jakarta menyederhanakan proses birokrasi. "Pengusaha tidak boleh takut untuk mandiri. Pemerintah DKI Jakarta akan membuka ruang seluas-luasnya bagi pelaku usaha untuk berkembang. Kepastian hukum dalam berbisnis di Jakarta harus menjadi contoh dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global," ujarnya. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua Umum Bidang Keanggotaan Kadin Indonesia Widiyanto Saputro.

Sumber: Kadin Indonesia (kadin.id)