
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggelar Kadin Sharia Economic Outlook 2026 bertema "Driving Indonesia's Halal Industry Competitiveness and Global Export Readiness" di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, pada Rabu, 28 Januari 2026.
Kepala Badan Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah Kadin Indonesia Titi Khoiriah menyampaikan forum tersebut membahas arah dan prospek ekonomi syariah sekaligus peran Kadin sebagai akselerator pengembangan industri halal nasional. "Target kita adalah menguasai pasar domestik, menjadi pemain utama ekonomi syariah, sekaligus memiliki daya saing kuat di pasar global," ujarnya.
Salah satu inisiatif yang tengah dikembangkan adalah Indonesia Sharia Economic Center sebagai wadah yang mempertemukan pelaku usaha industri halal. "Melalui platform ini, Kadin Indonesia juga mendorong promosi dan penguatan Kadin Halal Hub sebagai pusat kolaborasi, fasilitasi, dan pengembangan industri halal nasional," katanya.
Ekspor produk halal dan pengakuan sertifikasi
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menekankan potensi ekspor produk halal dalam meningkatkan devisa negara. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan tahun 2024, total nilai ekspor produk halal Indonesia mencapai 41,4 miliar dolar AS, dengan kontribusi terbesar dari sektor makanan dan minuman sebesar 33,6 miliar dolar AS, diikuti fesyen halal 6,83 miliar dolar AS, serta kosmetik halal 363 juta dolar AS.
"Potensi tersebut terus meningkat seiring penguatan ekspor melalui Mutual Recognition Agreement (MRA) sertifikasi halal Indonesia yang telah diakui di 16 negara, serta kerja sama bilateral bidang halal dengan lima negara mitra," ujarnya. Pengakuan lintas negara atas sertifikasi halal Indonesia dengan demikian menjadi salah satu pintu masuk utama bagi produk nasional ke pasar global.
Pariwisata ramah muslim
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyoroti potensi pariwisata ramah muslim. Dengan penduduk Muslim lebih dari 86 persen, Indonesia dinilai memiliki keunggulan besar seiring perubahan struktur pasar dan preferensi wisatawan global.
"Pariwisata ramah muslim adalah layanan tambahan yang mencakup amenitas, atraksi, dan aksesibilitas untuk memenuhi kebutuhan dan pengalaman wisatawan Muslim, sejalan dengan tren experience-based tourism," jelasnya. Turut menyampaikan pandangan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, yang menilai prospek industri halal Indonesia sangat cerah dengan catatan ekosistemnya terus diperkuat.
Sumber: Kadin Indonesia (kadin.id)
