
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggelar Strategic Human Capital Dialogue bertema "Pemetaan SDM Teknik dan Profesi untuk Reindustrialisasi Indonesia" di Menara Kadin Indonesia, Jakarta Selatan, pada Rabu, 24 Juni 2026.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia Shinta Widjaja Kamdani menyoroti pentingnya meningkatkan daya saing nasional dengan belajar dari negara lain, khususnya Vietnam. "Kami melihat Vietnam sebagai salah satu negara yang sangat cepat perkembangannya. Kalau berbicara soal daya saing, Vietnam selalu menjadi pembanding karena kita melihat Indonesia mulai tertinggal," ujarnya.
Produktivitas, bukan sekadar upah
Menurut Shinta, perhatian terhadap Vietnam selama ini lebih banyak tertuju pada regulasi, perizinan, dan insentif investasi, padahal produktivitas tenaga kerja sama pentingnya. Ia mencontohkan jam kerja di Vietnam yang mencapai 48 jam per minggu, lebih tinggi dibandingkan Indonesia yang rata-rata 40 jam per minggu. "Ini bukan hanya soal tingkat upah, tetapi juga produktivitas yang menjadi kunci," tuturnya.
Shinta menegaskan keberhasilan industrialisasi tidak semata ditentukan oleh modal, teknologi, atau infrastruktur, melainkan juga kualitas sumber daya manusia. Pabrik modern membutuhkan teknisi yang kompeten, transformasi digital memerlukan talenta teknologi, sementara industri hijau menuntut tenaga profesional yang memahami standar keberlanjutan. "Teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan manfaat optimal tanpa didukung SDM yang tepat. Karena itu, pemetaan SDM teknik dan profesi menjadi sangat penting," katanya.
Ia menambahkan, sektor-sektor strategis yang tengah dikembangkan Indonesia, mulai dari hilirisasi mineral, kendaraan listrik dan baterai, semikonduktor, industri kesehatan, hingga ekonomi digital, menuntut kompetensi yang berbeda-beda. Karena itu diperlukan sistem perencanaan tenaga kerja berbasis data dan kebutuhan industri, serta budaya pembelajaran sepanjang hayat yang mencakup peningkatan keterampilan dan perolehan kompetensi baru.
Peran LSP dan BNSP dalam pemetaan
Wakil Ketua Umum Bidang Kerja Sama Pengembangan Profesi SDM Teknik dan Industri Kadin Indonesia Insannul Kamil menjelaskan kegiatan tersebut bertujuan mengorkestrasi seluruh pemangku kepentingan. "Kadin sedang mengorkestrasi lembaga pendidikan, badan usaha, industri, asosiasi profesi, hingga Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk berkumpul dan memetakan peta kesenjangan (gap) kompetensi ini," katanya.
Dukungan disampaikan Anggota Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Adi Mahfudz, yang menilai Kadin merupakan lembaga paling tepat untuk melakukan pemetaan industri karena didukung Asosiasi Luar Biasa serta berbagai himpunan sektoral di bawah naungannya. Ia menekankan hasil pemetaan harus realistis dan diterjemahkan menjadi "Kelas Industri" pada pendidikan maupun pelatihan vokasi.
"Apa itu kelas industri? Identifikasi di suatu industri dikonstruksikan jadi suatu kurikulum industri. Jadi output dari yang dididik atau dilatih itu memang berdasarkan kebutuhan industri itu sendiri atau berdasarkan pesanan (order)," ujar Adi, yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Bidang Vokasi dan Sertifikasi Kadin Indonesia.
Sumber: Kadin Indonesia (kadin.id)
