Berita

Kadin Business Pulse Q2 2026: Sentimen Dunia Usaha Melemah

berita15 Juli 20261
Kadin Business Pulse Q2 2026: Sentimen Dunia Usaha Melemah

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Institute merilis hasil Kadin Business Pulse Q2 2026 bertajuk "Ketahanan Dunia Usaha di Tengah Pelemahan Rupiah dan Peluang ICA-CEPA" di Menara Kadin Indonesia, Jakarta Selatan, pada Rabu, 15 Juli 2026.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menjelaskan Business Pulse diterbitkan setiap kuartal untuk memotret kondisi dunia usaha sekaligus menjadi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi. Survei tersebut berfungsi sebagai dasbor yang merangkum indikator mulai dari kondisi bisnis, regulasi, birokrasi, hingga daya beli masyarakat, dan mencakup pelaku usaha dari skala mikro hingga perusahaan besar.

Tantangan sepanjang kuartal II

Menurut Anindya, sepanjang kuartal II 2026 dunia usaha menghadapi ketidakpastian geopolitik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, persoalan kepastian regulasi, pelemahan daya beli, serta kenaikan biaya energi. Meski demikian, ia menilai perhatian investor global terhadap Indonesia kini bergeser dari besarnya potensi menuju kemampuan merealisasikan kebijakan.

"Sekarang dunia luar tidak lagi menanyakan potensi Indonesia. Mereka sudah paham dan percaya. Yang selalu ditanyakan adalah apakah Indonesia bisa mengeksekusi kebijakannya, apakah regulasinya memiliki kepastian, dan apakah Indonesia punya talenta untuk mencapai Indonesia Emas," katanya.

Anindya menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan optimistis pertumbuhan bertahan di kisaran 5 persen pada 2026. "Inflasi juga terjaga dan rasio utang terhadap PDB merupakan salah satu yang terbaik di G20," ujarnya. Ia menilai Indonesia tengah bertransformasi dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis sumber daya manusia, sehingga peningkatan kualitas SDM menjadi kebutuhan yang mendesak.

Peluang ekspor yang belum dimanfaatkan

Anindya mendorong pelaku usaha melakukan efisiensi, mempercepat adopsi teknologi, menjaga lapangan kerja, serta memperluas pasar ekspor melalui pemanfaatan perjanjian perdagangan internasional. Ia menyoroti masih rendahnya pemanfaatan perjanjian dagang, termasuk Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement.

"Sayang sekali kalau kita tidak meningkatkan ekspor karena sekitar 80 persen pelaku usaha belum mengetahui detail pemanfaatan CEPA. Padahal sebentar lagi perjanjian dengan Uni Eropa akan berjalan dan Kanada juga sudah kita tandatangani pada awal tahun," terangnya.

Anindya juga menempatkan kondisi saat ini sebagai keseimbangan baru yang perlu dihadapi secara realistis. "Ini adalah equilibrium baru. Kita tentu menginginkan rupiah menguat dan suku bunga turun, tetapi kita juga harus melihat kondisi apa adanya dengan kepala dingin," ujarnya. Sementara itu, Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian menyampaikan hasil survei menunjukkan sentimen dunia usaha pada kuartal II 2026 masih melemah dibandingkan kuartal sebelumnya.

Sumber: Kadin Indonesia (kadin.id)